Pemanasan_Global


Bike To Work vs Polusi Udara
September 5, 2008, 6:37 am
Filed under: kenapa 1

Alasan utama orang enggan melakukan bike-to-work selain kondisi lalu-lintas yang semerawut adalah bahaya polusi udara terhadap kesehatan. Banyak yang mengatakan para pesepeda sebagai orang gila yang mau bunuh diri. Khususnya di kota Jakarta yang konon kabarnya adalah kota no.3 ter-polusi di dunia.

Lalu diantara pemakai jalanan seperti pengguna sepeda motor, mobil, metromini, bajay atau bus, apakah pengendara sepeda menjadi korban yang terparah?
Ingat, kita semua termasuk pejalan kaki, hewan dan tanaman yang berada di kota besar seperti Jakarta, sebenarnya sudah menjadi KORBAN POLUSI UDARA yang kita produksi setiap saat, setiap hari, setiap tahun, bahkan mungkin sepanjang hayat.

Yang terparah sudah bisa dipastikan adalah pengguna jasa bajay, metromini dan bis. Bagaimana tidak selain seringkali berdesak-desakan, dan menghirup udara terpolusi langsung, ditambah lagi para perokok yang seakan tidak mau peduli dengan aturan larangan merokok ditempat umum *&^%&^$@!

Pengguna mobil, jangan dikira kalau sudah pakai AC lalu bisa bebas polusi, belum tentu loh. Kebersihan dalam mobil yang jarang dibersihkan seringkali menjadi sarang yang nyaman bagi bakteria udara terutama pengguna taxi. Kondisi mobil yang tidak lagi baru dan prima menyebabkan udara luar masuk dengan mudah dan ini yang kita hirup …. belum lagi kalau kondisi jalan lagi macet-macetnya.

Pengendara sepeda motor, sepanjang mereka masih dapat bergerak mencari udara lebih segar, masih lebih lumayan; makanya disetiap lampu merah mereka selalu berusaha merangsek kedepan sampai melewati batas berhenti. Hanya saja di Jakarta kalau lagi macet, motor-pun kerap kali turut menderita, dan apesnya lagi mereka menghirup udara ”segar” yang terkontaminasi polusi asap knalpot.

Bagaimana dengan pengendara sepeda?

Para pekerja bersepeda hampir dipastikan berusaha untuk menghindari jalur yang pengap dengan polusi udara, mereka lebih tertarik mencari jalan alternatif yang jarang dilalui kendaraan bermesin, bahkan tidak jarang masuk ke jalan-jalan ”tikus” untuk mencari jalur yang rendah polusi. Belum lagi sepeda yang ringan dan lincah memungkinkan untuk selalu bergerak dikepadatan lalu lintas.

Keuntungan lain bagi para pesepeda adalah secara tidak langsung telah melakukan olah-raga memperkuat otot, mengurangi lemak, melatih koordinasi keseimbangan dan juga meningkatkan kemampuan cardio. Dan ini jelas membutuhkan oxygen yang lebih banyak dibandingkan mereka yang pasif, duduk dalam mobil atau kendaraan umum. Bagusnya bagi ”olahragawan” sepeda, mereka menghirup dan menghembuskan lebih banyak udara dibandingkan mereka yang pasif tadi dalam satuan waktu yang sama. Sehingga hazardous particles tidak sempat mengendap di paru-paru dan salurannya.

Bagaimana mengurangi efek polusi udara ketika bersepeda?

Tidak seperti kebanyakan pengguna sepeda motor yang menggunakan kain sebagai masker atau masker kasa. Para pekerja bersepeda sudah banyak yang menggunakan masker khusus untuk racun ringan yang dapat ditemukan dengan mudah ditoko bangunan dengan harga cukup terjangkau (sekitar 30-40ribu + 4500 untuk replaceable filter-nya). Memang pada awalnya menggunakan masker ini membuat bernafas menjadi sulit, tapi setelah beberapa kali, biasanya kendala ini bisa diatasi.

Hasil penelitian ilmiah dibelahan bumi lain berikut ini juga membuktikan bahwa pengguna mobil ternyata lebih beresiko terkena efek polusi udara lebih parah dibandingkan pesepeda.

Differences in cyclists and car drivers exposure to air pollution from traffic in the city of Copenhagen.

Rank J, Folke J, Jespersen PH. University of Roskilde, Department of Environment, Technology and Social Studies, Denmark.
<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy16799 = ‘jr’ + ‘@’;
addy16799 = addy16799 + ‘ruc’ + ‘.’ + ‘dk’;
document.write( ‘<a ‘ + path + ‘\” + prefix + ‘:’ + addy16799 + ‘\’>’ );
document.write( addy16799 );
document.write( ‘<\/a>’ );
//–>\n jr@ruc.dk
<!–
document.write( ‘<span style=\’display: none;\’>’ );
//–>
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ‘span>’ );
//–>

It has frequently been claimed that cycling in heavy traffic is unhealthy, more so than driving a car. To test this hypothesis, teams of two cyclists and two car drivers in two cars were equipped with personal air samplers while driving for 4 h on 2 different days in the morning traffic of Copenhagen. The air sample charcoal tubes were analysed for their benzene, toluene, ethylbenzene and xylene (BTEX) content and the air filters for particles (total dust). The concentrations of particles and BTEX in the cabin of the cars were 2-4 times greater than in the cyclists’ breathing zone, the greatest difference being for BTEX. Therefore, even after taking the increased respiration rate of cyclists into consideration, car drivers seem to be more exposed to airborne pollution than cyclists.

Health Promotion Journal of Australia 2004;15:63-7:

Issue addressed: International studies have consistently found that exposure to air pollutants is higher inside cars than outside. However, few studies have compared personal exposure to air pollutants by travel mode focusing on usual travel patterns.

Objectives: To compare the exposure to benzene, toluene, ethylbenzene and xylene (BTEX) and nitrogen dioxide (NO2) for commuters in central Sydney for five different commuting modes.

Results: The highest pollutant levels for all four BTEX pollutants were found for car commuters. Train commuters recorded the lowest pollutant levels for all four BTEX pollutants and NO2, and these levels were significantly lower than that for car commuters. Commuting by bus recorded the highest levels for NO2. Walking and cycling commuters had significantly lower levels of exposure to benzene compared with car commuters and significantly lower levels of NO2 than bus commuters.

Conclusions: The results of this study are consistent with the findings of studies in other cities and found elevated levels of exposure to motor vehicle-related pollutants in roadway microenvironments. Strategies that encourage commuting by train, walking and cycling should be supported as this reduces population exposure to motor vehicle-related pollutants.

Terlampir juga beberapa referensi terkait dengan pembahasan di atas;

1. Carnall D. Cycling and health promotion. A safer, slower urban road environment is the key. BMJ 2000; 320: 888. 2. Mersy DJ. Health benefits of aerobic exercise. Postgrad Med 1991; 90: 103-7 and 110-2. 3. Kelley GA. Effects of Aerobic exercise in normotensive adults: a brief metaanalytic review of controlled clinical trials. South Med J 1995; 88: 42-46. 4. http://www.nationalcyclingstrategy.org.uk/Health.pdf 5. Rutter H. Modal shift. Transport and health. A policy report on the health benefits of increasing levels of cycling in Oxfordshire 6. Leeds cycling action group. Cycling and Health 7. Scully D, Kremer J, Meade MM et al. Physical exercise and psychological wellbeing. In MacAuley D (Ed.) Benefits and hazards of exercise. London: BMJ Books 1999. 8. Fentem PH. ABC of sports medicine. Benefits of exercise in health and disease. BMJ 1994; 308: 1291-5. 9. Joakimsen RM, Magnus JH, Fonnebo V. Physical activity and predisposition for hip fractures: a review. Osteoporosis Int 1998; 7: 503-13. 10. Rank J, Folke J, Jespersen PH. Differences in cyclists and car drivers exposure to air pollution from traffic in the city of Copenhagen. Sci Total Environ 2001; 279: 131-6.

Tambahan info dari Asep Siregar :

Usia pemakaian secara filter (bahasanya Om Benny), tergantung pada:
1. Luas area permukaan filter (A=area, cm2 ) 2. Kecepatan udara rata-rata melewati media filter (V=Velocity, liter/menit)
Dari perkalian keduanya didapat: Flow Rate (volumetric) = Q

Q = V x A

Diameter pori2 filter biasanya dalam micron atau micrometer. (1 micron = 10-6 meter)

Hubungannya dengan rumus diatas:

Pada A yg sama, bila ukuran micron pori2 semakin kecil, maka V akan semakin kecil sehingga Q akan semakin kecil.

Jadi, bila yg akan ditangkap adalah solid particle, maka micron size bisa dicari yg cukup untuk menangkap debu saja. Konsekuensinya, gas2 berbahaya seperti oksida2 carbon dari asap kendaraan bisa langsung masuk.

Kalo mau yg bisa mereduce gas, maka manufacturer filter media biasanya menyediakan dengan ukuran pori yg lebih kecil. Konsekuensinya, volumetric flowrate akan semakin kecil, alias filter media jadi cepat buntu.

Analoginya, bisa disamakan lubang golf ketutup sama truk container atau bahkan lebih.

Namun demikian, ada dua cara untuk memperpanjang usia filter media utk gas filtration, yaitu dengan menambahkan filter debu di depannya atau dengan menggunakan adsorber.

Untuk gas, sebaiknya digunakan media seperti karbon aktif. Fungsinya, selain sebagai filter, dapat juga sebagai adsorber. Menurut literatur: 1 cm3 activated carbon bisa mempunyai luas area hingga 500m2! Heibatnya, karbon aktif bisa dicuci ulang trus dire-aktifasi dengan cara dikukus.

So, lamanya pemakaian filter untuk open athmosferic area, tidak bisa ditentukan dengan waktu. Jadi, kalo udah merasa mampet, segera diganti. Dicuci bisa, tapi dari arah sebaliknya dan jangan sering2.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: