Pemanasan_Global


Delegasi Asing Kagumi Kampung Daur Ulang
September 8, 2008, 7:36 am
Filed under: faktor alam

Keberhasilan Surabaya dalam pengelolaan sampah tak hanya dipaparkan dalam International Workshop on Community Based Solid Waste Management and Supporting National Policies. Sebagian besar delegasi yang hadir dari lima negara dan sepuluh kota di Indonesia juga diajak melihat langsung pengolahan sampah dan menanam pohon bersama.

Kunjungan pertama adalah melihat cara kerja komposting sampah di Taman Flora, Bratang. Sekitar pukul 07.00, para delegasi itu tiba di sana. Hadir pula Kepala Bappeko Tri Rismahrini, Ketua Tim Penggerak PKK Dyah Katarina, serta Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Hidayat Syah.

Di Taman Flora, DKP sudah menyediakan lubang dan berbagai jenis pohon untuk ditanam. Lubang yang tersedia sudah ditandai dengan tulisan nama para delegasi dari negara asing maupun perwakilan pemerintah kota di Indonesia.

Iwai Nobuo, perwakilan JICA untuk Indonesia, hanya manggut-manggut ketika diajari petugas DKP cara mencangkul. Setelah menanam pohon bersama, mereka diperlihatkan pembuatan kompos oleh petugas DKP.

Hidayat menjelaskan, hasil pembuatan kompos tersebut dibagikan kepada kampung-kampung peserta program Surabaya Green and Clean. “Selain itu, kami menyosialisasikan pembuatan komposter kepada warga,” jelasnya.

Dari Taman Flora, peserta diajak keliling ke Kelurahan Sonokawijenan, Sukomanunggal. Di situ, warga menunjukkan pembuatan kompos dan memamerkan aneka produk daur ulang. Para delegasi hanya berdecak kagum ketika dijelaskan bahwa di Surabaya ada sekitar 500 kampung yang kondisinya mirip dengan Sonokawijenan. “Wow, it’s beautiful,” ucap mereka.

Terakhir, mereka diajak berkunjung ke SD St Theresia. Dipilihnya SD tersebut lantaran mereka berhasil meraih adiwiyata (penghargaan sekolah berbasis lingkungan) dari pemerintah pusat. Dari SD St Theresia, peserta workshop kembali ke Novotel, tempat acara itu dihelat. Di sana, tim Unilever Peduli dan PT Telkom membeber upaya-upaya yang dilakukan oleh pemkot bersama mereka untuk mengatasi persoalan sampah di kota ini. “Artinya, komitmen bersama sangat penting untuk mengatasi persoalan sampah,” jelas Nunuk Maghfiroh, salah seorang panitia Kampungku Bersih Surabaya Green and Clean 2008 dari Unilever Peduli.

Mohammed Anwar Hussain, delegasi dari Dhaka, Bangladesh, juga membeber persoalan sampah di kotanya. Dia menyebutkan tiga prioritas penanganan sampah di Dhaka. Yaitu, sampah rumah tangga, industri, dan medis. “Selama ini, kami membangun kerja sama dengan stakeholder,” paparnya. Hanya, berbagai program yang dicanangkan tersebut belum berjalan optimal. (kit/fat)

Source: Jawa Pos Online

Advertisements


Bola Basket Daur Ulang
September 8, 2008, 7:27 am
Filed under: ulah manusia

26 April, 2008 <!–Aku Ingin Hijau–>

Produk terbaru dari Wilson, salah satu merk bola basket yang menjadi salah satu pemeran dalam film Cast Away, adalah Rebound. Lapisan luar bola basket Rebound mengandung 40% karet yang sudah di daur ulang. Diperkirakan pemakaian karet daur ulang untuk 70 bola basket adalah sama dengan 1 ban mobil. Dengan hal ini maka Wilson pun ikut membantu masalah ban bekas yang terus menggunung setiap hari. Slogan mereka pun adalah “Think Globally, Hoop Locally”.

Memang sudah waktunya industri olahraga dengan begitu banyak peralatan yang dipakai terutama pada saat pertandingan memiliki barang-barang yang hijau sehingga tidak hanya memberikan performa dan tontonan yang menarik, tetapi tetap peduli lingkungan.



Produk Daur Ulang Kelapa
September 8, 2008, 7:22 am
Filed under: faktor alam


JAKARTA – Banyak bidang usaha yang bisa dijadikan prospek bisnis. Tak usah melamun tinggi-tinggi jika ingin memulainya. Ambil contoh yang sederhana saja, mendaur ulang buah kelapa untuk dijadikan kerajinan. Ini hal yang amat sepele. Tapi bagi pengusaha kecil yang jeli, kelapa bisa menjadi mesin uang.
Ambil contoh, banyak pengusaha mikro di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta yang membuat kancing dari batok kelapa. Mereka tanpa keluar modal besar mengumpulkan bahan baku (tempurung) dari pasar-pasar dan petani kopra untuk dibuat kancing. Prosesnya mudah namun bernilai jual tinggi.
Di salah satu sudut Pasar Beringharjo, misalnya, terdapat sebuah toko grosir yang spesialis menjual kancing. Salah satu item yang sering dicari adalah kancing batok. Pembelinya kebanyakan pedagang dari seluruh Indonesia. Mereka membeli untuk diperdagangkan kembali. Ada pula pengusaha pakaian yang membutuhkan kancing untuk baju-baju yang berkesan etnik.
Toko tersebut ketika SH menanyakan pada penjaganya beberapa waktu lalu, mengatakan kancing-kancing itu diperoleh dari pengrajin di sekitar Yogyakarta. Warga asingpun sering membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa ke negerinya. Menurut penjaga itu, cukup banyak pembeli yang mengorder dalam jumlah ratusan kodi dalam berbagai ukuran untuk diekspor.
Batok kelapanya pun jika digarap dengan sedikit sentuhan seni, akan memiliki nilai tambah. Misalnya dibuat celengan, gelas seloki, dan sebagainya. Telah cukup banyak pengarin kecil yang bermain di batok untuk dibuat produk “antik.”. Untuk mendapatkan hasil yang unik, pengrajin memilih tempurung yang lebih kecil. Biasanya diambil dari jenis kelapa gading yang berbuah kecil.
“Kalau kerajinan yang memakai kelapa biasa (yang batoknya besar), itu sudah lama ada. Contohnya, gayung mandi atau centong (sendok nasi),” sebut Bambang di ujung telpon kepada SH, pekan lalu. Pemasok batok kelapa yang mukim di Yogyakarta, sekaligus juga pengusaha berbagai kerajinan itu menambahkan, untuk memperoleh tempurung kelapa yang kecil, agak sulit di pasar. Sebab kebanyakan buahnya jarang diperjualbelikan seperti halnya kelapa biasa. Jadi untuk mengumpulkan, dia berburu ke penduduk-penduduk yang memiliki kelapa gading.
Menurutnya, ada pengrajin di Jakarta yang menjadi pelanggan tetapnya. Sementara di kota-kota lain, sifatnya tidak tetap. Tiap bulan dia hanya memasok sekitar 500-700 batok ke berbagai kota dan mengaku sebagai satu-satunya pemasok batok kelapa yang memperoleh sampingan ajeg tiap bulan.

Kreatif
Kerajinan yang memanfaatkan buah kelapa sebagai bahan baku dan cukup terkenal adalah Bali. Di sana, para pengrajinnya kreatif dan panjang akal. Maka tak heran jika tercipta ukiran buah kelapa seperti wujud kepala orang atau kera. Produk ini cukup laris sebab turis yang mampir ke Pasar Seni, ada yang menenteng oleh-oleh kelapa berukir tersebut.
Yang unik, sewaktu SH baru-baru ini berkunjung ke Pekan Raya Jakarta 2004, ternyata produk serupa juga dibuat di Sulawesi Utara. Terus terang, daerah tersebut memang memiliki areal tanaman kelapa yang luas. Tetapi tiba-tiba ada produk ukiran – walau sederhana – takjup juga. Di stan Sulawesi Utara, produk kerajinan yang mirip Bali dipajang. Ada perbedaan yang mencolok dengan buatan Bali, yakni buah kelapa yang dipakai dari jenis kelapa kecil.
“Ya, ini buatan salah satu pengrajin di Sulawesi Utara,” ucap penjaga stan sembari menjelaskan bahwa motif ukiran kebanyakan berwujud kakek-kakek berwajah lucu dan seram. Menurutnya, produk ini setelah didaur ulang termasuk yang diburu turis asing karena bentuknya yang unik. Di stan tersebut, “kepala opa-opa” itu dijual Rp 20.000 per buah.
Bahannya adalah kelapa gabuk (yang gagal membesar) dan telah kering. Separuh bagian diukir menjadi wajah dengan semburat serat sabut, sebagai rambutnya. Separuhnya lagi dibiarkan utuh terbungkus sabut. Sayangnya, pengrajinnya tidak ikut ke Jakarta.
Masih banyak bagian dari kelapa yang bisa dimanfaatkan dan bisa menghasilkan uang. Misalnya dibuat menjadi perangkat makan terbuat dari batok. Yang ini, proses pembuatannya lebih sulit karena batok-batok tersebut dipecah-pecah kecil dan disusun kembali seperti membuat mozaik dengan perekat, sehingga menjadi lempengan. Barulah setelah ini dibentuk menjadi benda-benda tertentu, bahkan bisa dibuat lemari atau meja. Pelopornya semula pelaku bisnis mikro di Filipina yang kemudian diikuti Bali, yang juga telah sukses mengekspor ke mancanegara.
(SH/gatot irawan)



PENEBANGAN KAYU DI HUTAN HUJAN
September 5, 2008, 6:40 am
Filed under: ulah manusia

Salah satu sebab utama perusakan hutan hujan adalah penebangan hutan. Banyak tipe kayu yang digunakan untuk perabotan, lantai, dan konstruksi diambil dari hutan tropis di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Dengan membeli produk kayu tertentu, orang-orang di daerah seperti Amerika Serikat secara langsung membantu perusakan hutan hujan.

Walau penebangan hutan dapat dilakukan dalam aturan tertentu yang mengurangi kerusakan lingkungan, kebanyakan penebangan hutan di hutan hujan sangat merusak. Pohon-pohon besar ditebangi dan diseret sepanjang hutan, sementara jalan akses yang terbuka membuat para petani miskin mengubah hutan menjadi lahan pertanian. Di Afrika para pekerja penebang hutan menggantungkan diri pada hewan-hewan sekitar untuk mendapatkan protein. Mereka memburu hewan-hewan liar seperti gorila, kijang, dan simpanse untuk dimakan.

Penelitian telah menemukan bahwa jumlah spesies yang ditemukan di hutan hujan yang telah ditebang jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah yang ditemukan di hutan hujan utama yang belum tersentuh. Banyak hewan di hutan hujan tidak dapat bertahan hidup dengan berubahnya lingkungan sekitar.

Penduduk lokal biasanya bergantung pada penebangan hutan di hutan hujan untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Pada masa lalu, praktek-praktek semacam itu biasanya tidak terlalu merusak ekosistem. Bagaimanapun, saat ini wilayah dengan populasi manusia yang besar, curamnya peningkatan jumlah orang yang menebangi pohon di suatu wilayah hutan hujan bisa jadi sangat merusak. Sebagai contoh, beberapa wilayah di hutan-hutan di sekitar kamp-kamp pengungsian di Afrika Tengah (Rwanda dan Congo) benar-benar telah kehilangan seluruh pohonnya.



Bike To Work vs Polusi Udara
September 5, 2008, 6:37 am
Filed under: kenapa 1

Alasan utama orang enggan melakukan bike-to-work selain kondisi lalu-lintas yang semerawut adalah bahaya polusi udara terhadap kesehatan. Banyak yang mengatakan para pesepeda sebagai orang gila yang mau bunuh diri. Khususnya di kota Jakarta yang konon kabarnya adalah kota no.3 ter-polusi di dunia.

Lalu diantara pemakai jalanan seperti pengguna sepeda motor, mobil, metromini, bajay atau bus, apakah pengendara sepeda menjadi korban yang terparah?
Ingat, kita semua termasuk pejalan kaki, hewan dan tanaman yang berada di kota besar seperti Jakarta, sebenarnya sudah menjadi KORBAN POLUSI UDARA yang kita produksi setiap saat, setiap hari, setiap tahun, bahkan mungkin sepanjang hayat.

Yang terparah sudah bisa dipastikan adalah pengguna jasa bajay, metromini dan bis. Bagaimana tidak selain seringkali berdesak-desakan, dan menghirup udara terpolusi langsung, ditambah lagi para perokok yang seakan tidak mau peduli dengan aturan larangan merokok ditempat umum *&^%&^$@!

Pengguna mobil, jangan dikira kalau sudah pakai AC lalu bisa bebas polusi, belum tentu loh. Kebersihan dalam mobil yang jarang dibersihkan seringkali menjadi sarang yang nyaman bagi bakteria udara terutama pengguna taxi. Kondisi mobil yang tidak lagi baru dan prima menyebabkan udara luar masuk dengan mudah dan ini yang kita hirup …. belum lagi kalau kondisi jalan lagi macet-macetnya.

Pengendara sepeda motor, sepanjang mereka masih dapat bergerak mencari udara lebih segar, masih lebih lumayan; makanya disetiap lampu merah mereka selalu berusaha merangsek kedepan sampai melewati batas berhenti. Hanya saja di Jakarta kalau lagi macet, motor-pun kerap kali turut menderita, dan apesnya lagi mereka menghirup udara ”segar” yang terkontaminasi polusi asap knalpot.

Bagaimana dengan pengendara sepeda?

Para pekerja bersepeda hampir dipastikan berusaha untuk menghindari jalur yang pengap dengan polusi udara, mereka lebih tertarik mencari jalan alternatif yang jarang dilalui kendaraan bermesin, bahkan tidak jarang masuk ke jalan-jalan ”tikus” untuk mencari jalur yang rendah polusi. Belum lagi sepeda yang ringan dan lincah memungkinkan untuk selalu bergerak dikepadatan lalu lintas.

Keuntungan lain bagi para pesepeda adalah secara tidak langsung telah melakukan olah-raga memperkuat otot, mengurangi lemak, melatih koordinasi keseimbangan dan juga meningkatkan kemampuan cardio. Dan ini jelas membutuhkan oxygen yang lebih banyak dibandingkan mereka yang pasif, duduk dalam mobil atau kendaraan umum. Bagusnya bagi ”olahragawan” sepeda, mereka menghirup dan menghembuskan lebih banyak udara dibandingkan mereka yang pasif tadi dalam satuan waktu yang sama. Sehingga hazardous particles tidak sempat mengendap di paru-paru dan salurannya.

Bagaimana mengurangi efek polusi udara ketika bersepeda?

Tidak seperti kebanyakan pengguna sepeda motor yang menggunakan kain sebagai masker atau masker kasa. Para pekerja bersepeda sudah banyak yang menggunakan masker khusus untuk racun ringan yang dapat ditemukan dengan mudah ditoko bangunan dengan harga cukup terjangkau (sekitar 30-40ribu + 4500 untuk replaceable filter-nya). Memang pada awalnya menggunakan masker ini membuat bernafas menjadi sulit, tapi setelah beberapa kali, biasanya kendala ini bisa diatasi.

Hasil penelitian ilmiah dibelahan bumi lain berikut ini juga membuktikan bahwa pengguna mobil ternyata lebih beresiko terkena efek polusi udara lebih parah dibandingkan pesepeda.

Differences in cyclists and car drivers exposure to air pollution from traffic in the city of Copenhagen.

Rank J, Folke J, Jespersen PH. University of Roskilde, Department of Environment, Technology and Social Studies, Denmark.
<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy16799 = ‘jr’ + ‘@’;
addy16799 = addy16799 + ‘ruc’ + ‘.’ + ‘dk’;
document.write( ‘<a ‘ + path + ‘\” + prefix + ‘:’ + addy16799 + ‘\’>’ );
document.write( addy16799 );
document.write( ‘<\/a>’ );
//–>\n jr@ruc.dk
<!–
document.write( ‘<span style=\’display: none;\’>’ );
//–>
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ‘span>’ );
//–>

It has frequently been claimed that cycling in heavy traffic is unhealthy, more so than driving a car. To test this hypothesis, teams of two cyclists and two car drivers in two cars were equipped with personal air samplers while driving for 4 h on 2 different days in the morning traffic of Copenhagen. The air sample charcoal tubes were analysed for their benzene, toluene, ethylbenzene and xylene (BTEX) content and the air filters for particles (total dust). The concentrations of particles and BTEX in the cabin of the cars were 2-4 times greater than in the cyclists’ breathing zone, the greatest difference being for BTEX. Therefore, even after taking the increased respiration rate of cyclists into consideration, car drivers seem to be more exposed to airborne pollution than cyclists.

Health Promotion Journal of Australia 2004;15:63-7:

Issue addressed: International studies have consistently found that exposure to air pollutants is higher inside cars than outside. However, few studies have compared personal exposure to air pollutants by travel mode focusing on usual travel patterns.

Objectives: To compare the exposure to benzene, toluene, ethylbenzene and xylene (BTEX) and nitrogen dioxide (NO2) for commuters in central Sydney for five different commuting modes.

Results: The highest pollutant levels for all four BTEX pollutants were found for car commuters. Train commuters recorded the lowest pollutant levels for all four BTEX pollutants and NO2, and these levels were significantly lower than that for car commuters. Commuting by bus recorded the highest levels for NO2. Walking and cycling commuters had significantly lower levels of exposure to benzene compared with car commuters and significantly lower levels of NO2 than bus commuters.

Conclusions: The results of this study are consistent with the findings of studies in other cities and found elevated levels of exposure to motor vehicle-related pollutants in roadway microenvironments. Strategies that encourage commuting by train, walking and cycling should be supported as this reduces population exposure to motor vehicle-related pollutants.

Terlampir juga beberapa referensi terkait dengan pembahasan di atas;

1. Carnall D. Cycling and health promotion. A safer, slower urban road environment is the key. BMJ 2000; 320: 888. 2. Mersy DJ. Health benefits of aerobic exercise. Postgrad Med 1991; 90: 103-7 and 110-2. 3. Kelley GA. Effects of Aerobic exercise in normotensive adults: a brief metaanalytic review of controlled clinical trials. South Med J 1995; 88: 42-46. 4. http://www.nationalcyclingstrategy.org.uk/Health.pdf 5. Rutter H. Modal shift. Transport and health. A policy report on the health benefits of increasing levels of cycling in Oxfordshire 6. Leeds cycling action group. Cycling and Health 7. Scully D, Kremer J, Meade MM et al. Physical exercise and psychological wellbeing. In MacAuley D (Ed.) Benefits and hazards of exercise. London: BMJ Books 1999. 8. Fentem PH. ABC of sports medicine. Benefits of exercise in health and disease. BMJ 1994; 308: 1291-5. 9. Joakimsen RM, Magnus JH, Fonnebo V. Physical activity and predisposition for hip fractures: a review. Osteoporosis Int 1998; 7: 503-13. 10. Rank J, Folke J, Jespersen PH. Differences in cyclists and car drivers exposure to air pollution from traffic in the city of Copenhagen. Sci Total Environ 2001; 279: 131-6.

Tambahan info dari Asep Siregar :

Usia pemakaian secara filter (bahasanya Om Benny), tergantung pada:
1. Luas area permukaan filter (A=area, cm2 ) 2. Kecepatan udara rata-rata melewati media filter (V=Velocity, liter/menit)
Dari perkalian keduanya didapat: Flow Rate (volumetric) = Q

Q = V x A

Diameter pori2 filter biasanya dalam micron atau micrometer. (1 micron = 10-6 meter)

Hubungannya dengan rumus diatas:

Pada A yg sama, bila ukuran micron pori2 semakin kecil, maka V akan semakin kecil sehingga Q akan semakin kecil.

Jadi, bila yg akan ditangkap adalah solid particle, maka micron size bisa dicari yg cukup untuk menangkap debu saja. Konsekuensinya, gas2 berbahaya seperti oksida2 carbon dari asap kendaraan bisa langsung masuk.

Kalo mau yg bisa mereduce gas, maka manufacturer filter media biasanya menyediakan dengan ukuran pori yg lebih kecil. Konsekuensinya, volumetric flowrate akan semakin kecil, alias filter media jadi cepat buntu.

Analoginya, bisa disamakan lubang golf ketutup sama truk container atau bahkan lebih.

Namun demikian, ada dua cara untuk memperpanjang usia filter media utk gas filtration, yaitu dengan menambahkan filter debu di depannya atau dengan menggunakan adsorber.

Untuk gas, sebaiknya digunakan media seperti karbon aktif. Fungsinya, selain sebagai filter, dapat juga sebagai adsorber. Menurut literatur: 1 cm3 activated carbon bisa mempunyai luas area hingga 500m2! Heibatnya, karbon aktif bisa dicuci ulang trus dire-aktifasi dengan cara dikukus.

So, lamanya pemakaian filter untuk open athmosferic area, tidak bisa ditentukan dengan waktu. Jadi, kalo udah merasa mampet, segera diganti. Dicuci bisa, tapi dari arah sebaliknya dan jangan sering2.



Polusi Jadi Penyebab 40% Kematian Manusia di Dunia
September 5, 2008, 6:29 am
Filed under: penyebab 2

Jakarta (ANTARA News) – Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa polusi air, udara, dan tanah, beriring dengan faktor lingkungan lain, menjadi penyebab 40 persen kematian manusia di dunia, kata pakar ekologi dari Universitas Cornell di Amerika Serikat (AS), David Pimentel.

Ia memperkirakan, tiap tahunnya sekitar 62 juta kematian atau 40 persen dari total kematian di umat manusia di dunia disebabkan oleh faktor lingkungan, terutama zat polutan organik dan kimiawi yang terakumulasi dalam udara yang dihirup dan air yang diminum setiap hari.

Dikutip dari laman “LiveScience”, Pimentel menjelaskan bahwa meskipun berbagai pihak telah menyadari besarnya dampak polusi terhadap kematian di dunia, tapi tetap saja para peneliti terkejut dengan besarnya “angka sumbangan” polusi itu.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, sekira 1,1 miliar orang penduduk Bumi saat ini kesulitan mendapat akses air bersih. Itu sebabnya 80 persen penyebaran penyakit menular ditularkan lewat air.

“Air adalah perhatian utama, itu tidak bisa ditawar-tawar lagi,” kata Pimentel, karena semua orang menggunakan air untuk minum, masak, mencuci, dan mandi.

Air yang terkontaminasi dengan kotoran bisa menjadi media transmisi penyakit saluran pencernaan seperti kolera, gangguan usus (yang bisa bercampur dengan masalah kesehatan lain bisa menimbulkan malnutrisi), dan berbagai penyakit lain yang telah membunuh jutaan orang tiap tahun, terutama anak-anak.

Menurut data penelitian tahun 2004 oleh Pusat Populasi, sekitar 2,2 juta bayi dan anak meninggal tiap tahun akibat diare, sebagian besar diakibatkan kontaminasi air dan makanan.

Masih menurut data itu, air yang terpapar zat polutan di Afrika dan India menyebabkan kematian 1,4 juta orang tiap tahun. Mereka meninggal akibat penyakit-penyakit seperti kolera dan disentri.

“Sanitasi dan kebersihan air, di seluruh dunia, adalah penyebab utama penyebaran penyakit,” kata ilmuwan di WHO, Annette Pruss-Ustun.

Kebanyakan masalah air yang terkontaminasi ini dialami oleh negara-negara berkembang, di mana infrastuktur pengolahan sampah dan air masih sangat minim.

PBB menyebutkan, di negara-negara berkembang, sekitar 95 sampah kota yang tidak diolah, dibuang langsung ke danau-danau atau sungai yang mereka gunakan airnya untuk minum dan mandi.

“Di negara-negara berkembang belum ada pasokan air yang mencukupi, proses pengolahan limbah juga masih jarang,” kata Pruss-Ustun.

India, misalnya, hanya sedikit saja kota yang punya fasilitas pengolahan air kata Pimentel. “Sulit sekali mendapatkan air bersih,” ujarnya menambahkan. (*)



Pencemaran udara
September 5, 2008, 6:25 am
Filed under: ulah manusia

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.

Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.

//<![CDATA[
if (window.showTocToggle) { var tocShowText = “tampilkan”; var tocHideText = “sembunyikan”; showTocToggle(); }
//]]>

Sumber

Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.

Atmosfer merupakan sebuah sistem yang kompleks, dinamik, dan rapuh. Belakangan ini pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan global, perubahan iklim dan deplesi ozon di stratosfer semakin meningkat.

Kegiatan manusia

  • Transportasi
  • Industri
  • Pembangkit listrik
  • Pembakaran (perapian, kompor, furnace, insinerator dengan berbagai jenis bahan bakar)
  • Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)

Sumber alami

Sumber-sumber lain

Jenis-jenis pencemar

Dampak

Dampak kesehatan

Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik.

Studi ADB memperkirakan dampak pencemaran udara di Jakarta yang berkaitan dengan kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISPA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah di tahun 2015.

Dampak terhadap tanaman

Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.

Hujan asam

pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:

  • Mempengaruhi kualitas air permukaan
  • Merusak tanaman
  • Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
  • Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan

Efek rumah kaca

Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.

Dampak dari pemanasan global adalah:

  • Pencairan es di kutub
  • Perubahan iklim regional dan global
  • Perubahan siklus hidup flora dan fauna

Kerusakan lapisan ozon

Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.

Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.