<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pemanasan_Global &#187; faktor alam</title>
	<atom:link href="http://wiroganteng.wordpress.com/category/hancurnya-alam-kita/faktor-alam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wiroganteng.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Sep 2008 07:36:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wiroganteng.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/be448efb38f0a62258c74f8efdd32a46?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pemanasan_Global &#187; faktor alam</title>
		<link>http://wiroganteng.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wiroganteng.wordpress.com/osd.xml" title="Pemanasan_Global" />
		<item>
		<title>Delegasi Asing Kagumi Kampung Daur Ulang</title>
		<link>http://wiroganteng.wordpress.com/2008/09/08/delegasi-asing-kagumi-kampung-daur-ulang/</link>
		<comments>http://wiroganteng.wordpress.com/2008/09/08/delegasi-asing-kagumi-kampung-daur-ulang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 07:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirobahlul</dc:creator>
				<category><![CDATA[faktor alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wiroganteng.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[
Keberhasilan Surabaya dalam pengelolaan sampah tak hanya dipaparkan dalam International Workshop on Community Based Solid Waste Management and Supporting National Policies. Sebagian besar delegasi yang hadir dari lima negara dan sepuluh kota di Indonesia juga diajak melihat langsung pengolahan sampah dan menanam pohon bersama.
Kunjungan pertama adalah melihat cara kerja komposting sampah di Taman Flora, Bratang. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wiroganteng.wordpress.com&blog=4646864&post=124&subd=wiroganteng&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://wiroganteng.files.wordpress.com/2008/09/budaya-sampah-1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-125" title="budaya-sampah-1" src="http://wiroganteng.files.wordpress.com/2008/09/budaya-sampah-1.jpg?w=307&#038;h=286" alt="" width="307" height="286" /></a></p>
<p>Keberhasilan Surabaya dalam pengelolaan sampah tak hanya dipaparkan dalam International Workshop on Community Based Solid Waste Management and Supporting National Policies. Sebagian besar delegasi yang hadir dari lima negara dan sepuluh kota di Indonesia juga diajak melihat langsung pengolahan sampah dan menanam pohon bersama.</p>
<p>Kunjungan pertama adalah melihat cara kerja komposting sampah di Taman Flora, Bratang. Sekitar pukul 07.00, para delegasi itu tiba di sana. Hadir pula Kepala Bappeko Tri Rismahrini, Ketua Tim Penggerak PKK Dyah Katarina, serta Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Hidayat Syah.</p>
<p>Di Taman Flora, DKP sudah menyediakan lubang dan berbagai jenis pohon untuk ditanam. Lubang yang tersedia sudah ditandai dengan tulisan nama para delegasi dari negara asing maupun perwakilan pemerintah kota di Indonesia.</p>
<p>Iwai Nobuo, perwakilan JICA untuk Indonesia, hanya manggut-manggut ketika diajari petugas DKP cara mencangkul. Setelah menanam pohon bersama, mereka diperlihatkan pembuatan kompos oleh petugas DKP.</p>
<p>Hidayat menjelaskan, hasil pembuatan kompos tersebut dibagikan kepada kampung-kampung peserta program Surabaya Green and Clean. “Selain itu, kami menyosialisasikan pembuatan komposter kepada warga,” jelasnya.</p>
<p>Dari Taman Flora, peserta diajak keliling ke Kelurahan Sonokawijenan, Sukomanunggal. Di situ, warga menunjukkan pembuatan kompos dan memamerkan aneka produk daur ulang. Para delegasi hanya berdecak kagum ketika dijelaskan bahwa di Surabaya ada sekitar 500 kampung yang kondisinya mirip dengan Sonokawijenan. “Wow, it’s beautiful,” ucap mereka.</p>
<p>Terakhir, mereka diajak berkunjung ke SD St Theresia. Dipilihnya SD tersebut lantaran mereka berhasil meraih adiwiyata (penghargaan sekolah berbasis lingkungan) dari pemerintah pusat. Dari SD St Theresia, peserta workshop kembali ke Novotel, tempat acara itu dihelat. Di sana, tim Unilever Peduli dan PT Telkom membeber upaya-upaya yang dilakukan oleh pemkot bersama mereka untuk mengatasi persoalan sampah di kota ini. “Artinya, komitmen bersama sangat penting untuk mengatasi persoalan sampah,” jelas Nunuk Maghfiroh, salah seorang panitia Kampungku Bersih Surabaya Green and Clean 2008 dari Unilever Peduli.</p>
<p>Mohammed Anwar Hussain, delegasi dari Dhaka, Bangladesh, juga membeber persoalan sampah di kotanya. Dia menyebutkan tiga prioritas penanganan sampah di Dhaka. Yaitu, sampah rumah tangga, industri, dan medis. “Selama ini, kami membangun kerja sama dengan stakeholder,” paparnya. Hanya, berbagai program yang dicanangkan tersebut belum berjalan optimal. (kit/fat)</p>
<p>Source: Jawa Pos Online</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wiroganteng.wordpress.com/124/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wiroganteng.wordpress.com/124/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wiroganteng.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wiroganteng.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wiroganteng.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wiroganteng.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wiroganteng.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wiroganteng.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wiroganteng.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wiroganteng.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wiroganteng.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wiroganteng.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wiroganteng.wordpress.com&blog=4646864&post=124&subd=wiroganteng&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wiroganteng.wordpress.com/2008/09/08/delegasi-asing-kagumi-kampung-daur-ulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a617acc759e9a2c706e647093e32c4b8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">wirobahlul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wiroganteng.files.wordpress.com/2008/09/budaya-sampah-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">budaya-sampah-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Produk Daur Ulang Kelapa</title>
		<link>http://wiroganteng.wordpress.com/2008/09/08/produk-daur-ulang-kelapa/</link>
		<comments>http://wiroganteng.wordpress.com/2008/09/08/produk-daur-ulang-kelapa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 07:22:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirobahlul</dc:creator>
				<category><![CDATA[faktor alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wiroganteng.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[
 
 JAKARTA – Banyak bidang usaha yang bisa dijadikan prospek bisnis.              Tak usah melamun tinggi-tinggi jika ingin memulainya. Ambil contoh              yang sederhana saja, mendaur ulang buah kelapa untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wiroganteng.wordpress.com&blog=4646864&post=117&subd=wiroganteng&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><a href="http://wiroganteng.files.wordpress.com/2008/09/daur-ulang.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-118" title="daur-ulang" src="http://wiroganteng.files.wordpress.com/2008/09/daur-ulang.jpg?w=140&#038;h=140" alt="" width="140" height="140" /></a><br />
<span style="font-family:Arial;"><strong><span style="font-size:medium;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;"> JAKARTA – Banyak bidang usaha yang bisa dijadikan prospek bisnis.              Tak usah melamun tinggi-tinggi jika ingin memulainya. Ambil contoh              yang sederhana saja, mendaur ulang buah kelapa untuk dijadikan              kerajinan. Ini hal yang amat sepele. Tapi bagi pengusaha kecil yang              jeli, kelapa bisa menjadi mesin uang.<br />
Ambil contoh, banyak pengusaha mikro di kawasan Daerah Istimewa              Yogyakarta yang membuat kancing dari batok kelapa. Mereka tanpa              keluar modal besar mengumpulkan bahan baku (tempurung) dari              pasar-pasar dan petani kopra untuk dibuat kancing. Prosesnya mudah              namun bernilai jual tinggi.<br />
Di salah satu sudut Pasar Beringharjo, misalnya, terdapat sebuah              toko grosir yang spesialis menjual kancing. Salah satu item yang              sering dicari adalah kancing batok. Pembelinya kebanyakan pedagang              dari seluruh Indonesia. Mereka membeli untuk diperdagangkan kembali.              Ada pula pengusaha pakaian yang membutuhkan kancing untuk baju-baju              yang berkesan etnik.<br />
Toko tersebut ketika SH menanyakan pada penjaganya beberapa waktu              lalu, mengatakan kancing-kancing itu diperoleh dari pengrajin di              sekitar Yogyakarta. Warga asingpun sering membeli dalam jumlah              banyak untuk dibawa ke negerinya. Menurut penjaga itu, cukup banyak              pembeli yang mengorder dalam jumlah ratusan kodi dalam berbagai              ukuran untuk diekspor.<br />
Batok kelapanya pun jika digarap dengan sedikit sentuhan seni, akan              memiliki nilai tambah. Misalnya dibuat celengan, gelas seloki, dan              sebagainya. Telah cukup banyak pengarin kecil yang bermain di batok              untuk dibuat produk “antik.”. Untuk mendapatkan hasil yang unik,              pengrajin memilih tempurung yang lebih kecil. Biasanya diambil dari              jenis kelapa gading yang berbuah kecil.<br />
“Kalau kerajinan yang memakai kelapa biasa (yang batoknya besar),              itu sudah lama ada. Contohnya, gayung mandi atau centong (sendok              nasi),” sebut Bambang di ujung telpon kepada SH, pekan lalu. Pemasok              batok kelapa yang mukim di Yogyakarta, sekaligus juga pengusaha              berbagai kerajinan itu menambahkan, untuk memperoleh tempurung              kelapa yang kecil, agak sulit di pasar. Sebab kebanyakan buahnya              jarang diperjualbelikan seperti halnya kelapa biasa. Jadi untuk              mengumpulkan, dia berburu ke penduduk-penduduk yang memiliki kelapa              gading.<br />
Menurutnya, ada pengrajin di Jakarta yang menjadi pelanggan              tetapnya. Sementara di kota-kota lain, sifatnya tidak tetap. Tiap              bulan dia hanya memasok sekitar 500-700 batok ke berbagai kota dan              mengaku sebagai satu-satunya pemasok batok kelapa yang memperoleh              sampingan ajeg tiap bulan.</span></p>
<p>Kreatif<br />
Kerajinan yang memanfaatkan buah kelapa sebagai bahan baku dan cukup              terkenal adalah Bali. Di sana, para pengrajinnya kreatif dan panjang              akal. Maka tak heran jika tercipta ukiran buah kelapa seperti wujud              kepala orang atau kera. Produk ini cukup laris sebab turis yang              mampir ke Pasar Seni, ada yang menenteng oleh-oleh kelapa berukir              tersebut.<br />
Yang unik, sewaktu SH baru-baru ini berkunjung ke Pekan Raya Jakarta              2004, ternyata produk serupa juga dibuat di Sulawesi Utara. Terus              terang, daerah tersebut memang memiliki areal tanaman kelapa yang              luas. Tetapi tiba-tiba ada produk ukiran &#8211; walau sederhana – takjup              juga. Di stan Sulawesi Utara, produk kerajinan yang mirip Bali              dipajang. Ada perbedaan yang mencolok dengan buatan Bali, yakni buah              kelapa yang dipakai dari jenis kelapa kecil.<br />
“Ya, ini buatan salah satu pengrajin di Sulawesi Utara,” ucap              penjaga stan sembari menjelaskan bahwa motif ukiran kebanyakan              berwujud kakek-kakek berwajah lucu dan seram. Menurutnya, produk ini              setelah didaur ulang termasuk yang diburu turis asing karena              bentuknya yang unik. Di stan tersebut, “kepala opa-opa” itu dijual              Rp 20.000 per buah.<br />
Bahannya adalah kelapa gabuk (yang gagal membesar) dan telah kering.              Separuh bagian diukir menjadi wajah dengan semburat serat sabut,              sebagai rambutnya. Separuhnya lagi dibiarkan utuh terbungkus sabut.              Sayangnya, pengrajinnya tidak ikut ke Jakarta.<br />
Masih banyak bagian dari kelapa yang bisa dimanfaatkan dan bisa              menghasilkan uang. Misalnya dibuat menjadi perangkat makan terbuat              dari batok. Yang ini, proses pembuatannya lebih sulit karena              batok-batok tersebut dipecah-pecah kecil dan disusun kembali seperti              membuat mozaik dengan perekat, sehingga menjadi lempengan. Barulah              setelah ini dibentuk menjadi benda-benda tertentu, bahkan bisa              dibuat lemari atau meja. Pelopornya semula pelaku bisnis mikro di              Filipina yang kemudian diikuti Bali, yang juga telah sukses              mengekspor ke mancanegara.<br />
<strong>(SH/gatot irawan)</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wiroganteng.wordpress.com/117/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wiroganteng.wordpress.com/117/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wiroganteng.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wiroganteng.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wiroganteng.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wiroganteng.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wiroganteng.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wiroganteng.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wiroganteng.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wiroganteng.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wiroganteng.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wiroganteng.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wiroganteng.wordpress.com&blog=4646864&post=117&subd=wiroganteng&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wiroganteng.wordpress.com/2008/09/08/produk-daur-ulang-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a617acc759e9a2c706e647093e32c4b8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">wirobahlul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wiroganteng.files.wordpress.com/2008/09/daur-ulang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">daur-ulang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bencana alam</title>
		<link>http://wiroganteng.wordpress.com/2008/09/02/bencana-alam/</link>
		<comments>http://wiroganteng.wordpress.com/2008/09/02/bencana-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 07:09:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wirobahlul</dc:creator>
				<category><![CDATA[faktor alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wiroganteng.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[





Rumah roboh akibat Bencana alam di Klaten


Bencana alam adalah konsekwensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wiroganteng.wordpress.com&blog=4646864&post=57&subd=wiroganteng&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1 class="firstHeading"></h1>
<p><!-- start content --></p>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:182px;"><a class="image" title="Rumah roboh akibat Bencana alam di Klaten" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Klaten_collapsed_houses.jpg"><img class="thumbimage" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/fe/Klaten_collapsed_houses.jpg/180px-Klaten_collapsed_houses.jpg" border="0" alt="Rumah roboh akibat Bencana alam di Klaten" width="180" height="135" /></a></p>
<div class="thumbcaption">
<div class="magnify"><a class="internal" title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Klaten_collapsed_houses.jpg"><img src="http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" alt="" width="15" height="11" /></a></div>
<p>Rumah roboh akibat Bencana alam di <a class="mw-redirect" title="Klaten" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Klaten">Klaten</a></div>
</div>
</div>
<p><strong>Bencana alam</strong> adalah konsekwensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan <a title="Gunung" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung">gunung</a>, <a title="Gempa bumi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi">gempa bumi</a>, <a title="Tanah longsor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_longsor">tanah longsor</a>) dan aktivitas <a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia">manusia</a>. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka<sup class="reference"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam#cite_note-0">[1]</a></sup>. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: &#8220;bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan&#8221;. Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah &#8220;alam&#8221; juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.</p>
<p>Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah &amp; menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wiroganteng.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wiroganteng.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wiroganteng.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wiroganteng.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wiroganteng.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wiroganteng.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wiroganteng.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wiroganteng.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wiroganteng.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wiroganteng.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wiroganteng.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wiroganteng.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wiroganteng.wordpress.com&blog=4646864&post=57&subd=wiroganteng&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wiroganteng.wordpress.com/2008/09/02/bencana-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a617acc759e9a2c706e647093e32c4b8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">wirobahlul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/fe/Klaten_collapsed_houses.jpg/180px-Klaten_collapsed_houses.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rumah roboh akibat Bencana alam di Klaten</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>