Pemanasan_Global


Delegasi Asing Kagumi Kampung Daur Ulang
September 8, 2008, 7:36 am
Filed under: faktor alam

Keberhasilan Surabaya dalam pengelolaan sampah tak hanya dipaparkan dalam International Workshop on Community Based Solid Waste Management and Supporting National Policies. Sebagian besar delegasi yang hadir dari lima negara dan sepuluh kota di Indonesia juga diajak melihat langsung pengolahan sampah dan menanam pohon bersama.

Kunjungan pertama adalah melihat cara kerja komposting sampah di Taman Flora, Bratang. Sekitar pukul 07.00, para delegasi itu tiba di sana. Hadir pula Kepala Bappeko Tri Rismahrini, Ketua Tim Penggerak PKK Dyah Katarina, serta Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Hidayat Syah.

Di Taman Flora, DKP sudah menyediakan lubang dan berbagai jenis pohon untuk ditanam. Lubang yang tersedia sudah ditandai dengan tulisan nama para delegasi dari negara asing maupun perwakilan pemerintah kota di Indonesia.

Iwai Nobuo, perwakilan JICA untuk Indonesia, hanya manggut-manggut ketika diajari petugas DKP cara mencangkul. Setelah menanam pohon bersama, mereka diperlihatkan pembuatan kompos oleh petugas DKP.

Hidayat menjelaskan, hasil pembuatan kompos tersebut dibagikan kepada kampung-kampung peserta program Surabaya Green and Clean. “Selain itu, kami menyosialisasikan pembuatan komposter kepada warga,” jelasnya.

Dari Taman Flora, peserta diajak keliling ke Kelurahan Sonokawijenan, Sukomanunggal. Di situ, warga menunjukkan pembuatan kompos dan memamerkan aneka produk daur ulang. Para delegasi hanya berdecak kagum ketika dijelaskan bahwa di Surabaya ada sekitar 500 kampung yang kondisinya mirip dengan Sonokawijenan. “Wow, it’s beautiful,” ucap mereka.

Terakhir, mereka diajak berkunjung ke SD St Theresia. Dipilihnya SD tersebut lantaran mereka berhasil meraih adiwiyata (penghargaan sekolah berbasis lingkungan) dari pemerintah pusat. Dari SD St Theresia, peserta workshop kembali ke Novotel, tempat acara itu dihelat. Di sana, tim Unilever Peduli dan PT Telkom membeber upaya-upaya yang dilakukan oleh pemkot bersama mereka untuk mengatasi persoalan sampah di kota ini. “Artinya, komitmen bersama sangat penting untuk mengatasi persoalan sampah,” jelas Nunuk Maghfiroh, salah seorang panitia Kampungku Bersih Surabaya Green and Clean 2008 dari Unilever Peduli.

Mohammed Anwar Hussain, delegasi dari Dhaka, Bangladesh, juga membeber persoalan sampah di kotanya. Dia menyebutkan tiga prioritas penanganan sampah di Dhaka. Yaitu, sampah rumah tangga, industri, dan medis. “Selama ini, kami membangun kerja sama dengan stakeholder,” paparnya. Hanya, berbagai program yang dicanangkan tersebut belum berjalan optimal. (kit/fat)

Source: Jawa Pos Online



Bola Basket Daur Ulang
September 8, 2008, 7:27 am
Filed under: ulah manusia

26 April, 2008 <!–Aku Ingin Hijau–>

Produk terbaru dari Wilson, salah satu merk bola basket yang menjadi salah satu pemeran dalam film Cast Away, adalah Rebound. Lapisan luar bola basket Rebound mengandung 40% karet yang sudah di daur ulang. Diperkirakan pemakaian karet daur ulang untuk 70 bola basket adalah sama dengan 1 ban mobil. Dengan hal ini maka Wilson pun ikut membantu masalah ban bekas yang terus menggunung setiap hari. Slogan mereka pun adalah “Think Globally, Hoop Locally”.

Memang sudah waktunya industri olahraga dengan begitu banyak peralatan yang dipakai terutama pada saat pertandingan memiliki barang-barang yang hijau sehingga tidak hanya memberikan performa dan tontonan yang menarik, tetapi tetap peduli lingkungan.



Produk Daur Ulang Kelapa
September 8, 2008, 7:22 am
Filed under: faktor alam


JAKARTA – Banyak bidang usaha yang bisa dijadikan prospek bisnis. Tak usah melamun tinggi-tinggi jika ingin memulainya. Ambil contoh yang sederhana saja, mendaur ulang buah kelapa untuk dijadikan kerajinan. Ini hal yang amat sepele. Tapi bagi pengusaha kecil yang jeli, kelapa bisa menjadi mesin uang.
Ambil contoh, banyak pengusaha mikro di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta yang membuat kancing dari batok kelapa. Mereka tanpa keluar modal besar mengumpulkan bahan baku (tempurung) dari pasar-pasar dan petani kopra untuk dibuat kancing. Prosesnya mudah namun bernilai jual tinggi.
Di salah satu sudut Pasar Beringharjo, misalnya, terdapat sebuah toko grosir yang spesialis menjual kancing. Salah satu item yang sering dicari adalah kancing batok. Pembelinya kebanyakan pedagang dari seluruh Indonesia. Mereka membeli untuk diperdagangkan kembali. Ada pula pengusaha pakaian yang membutuhkan kancing untuk baju-baju yang berkesan etnik.
Toko tersebut ketika SH menanyakan pada penjaganya beberapa waktu lalu, mengatakan kancing-kancing itu diperoleh dari pengrajin di sekitar Yogyakarta. Warga asingpun sering membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa ke negerinya. Menurut penjaga itu, cukup banyak pembeli yang mengorder dalam jumlah ratusan kodi dalam berbagai ukuran untuk diekspor.
Batok kelapanya pun jika digarap dengan sedikit sentuhan seni, akan memiliki nilai tambah. Misalnya dibuat celengan, gelas seloki, dan sebagainya. Telah cukup banyak pengarin kecil yang bermain di batok untuk dibuat produk “antik.”. Untuk mendapatkan hasil yang unik, pengrajin memilih tempurung yang lebih kecil. Biasanya diambil dari jenis kelapa gading yang berbuah kecil.
“Kalau kerajinan yang memakai kelapa biasa (yang batoknya besar), itu sudah lama ada. Contohnya, gayung mandi atau centong (sendok nasi),” sebut Bambang di ujung telpon kepada SH, pekan lalu. Pemasok batok kelapa yang mukim di Yogyakarta, sekaligus juga pengusaha berbagai kerajinan itu menambahkan, untuk memperoleh tempurung kelapa yang kecil, agak sulit di pasar. Sebab kebanyakan buahnya jarang diperjualbelikan seperti halnya kelapa biasa. Jadi untuk mengumpulkan, dia berburu ke penduduk-penduduk yang memiliki kelapa gading.
Menurutnya, ada pengrajin di Jakarta yang menjadi pelanggan tetapnya. Sementara di kota-kota lain, sifatnya tidak tetap. Tiap bulan dia hanya memasok sekitar 500-700 batok ke berbagai kota dan mengaku sebagai satu-satunya pemasok batok kelapa yang memperoleh sampingan ajeg tiap bulan.

Kreatif
Kerajinan yang memanfaatkan buah kelapa sebagai bahan baku dan cukup terkenal adalah Bali. Di sana, para pengrajinnya kreatif dan panjang akal. Maka tak heran jika tercipta ukiran buah kelapa seperti wujud kepala orang atau kera. Produk ini cukup laris sebab turis yang mampir ke Pasar Seni, ada yang menenteng oleh-oleh kelapa berukir tersebut.
Yang unik, sewaktu SH baru-baru ini berkunjung ke Pekan Raya Jakarta 2004, ternyata produk serupa juga dibuat di Sulawesi Utara. Terus terang, daerah tersebut memang memiliki areal tanaman kelapa yang luas. Tetapi tiba-tiba ada produk ukiran – walau sederhana – takjup juga. Di stan Sulawesi Utara, produk kerajinan yang mirip Bali dipajang. Ada perbedaan yang mencolok dengan buatan Bali, yakni buah kelapa yang dipakai dari jenis kelapa kecil.
“Ya, ini buatan salah satu pengrajin di Sulawesi Utara,” ucap penjaga stan sembari menjelaskan bahwa motif ukiran kebanyakan berwujud kakek-kakek berwajah lucu dan seram. Menurutnya, produk ini setelah didaur ulang termasuk yang diburu turis asing karena bentuknya yang unik. Di stan tersebut, “kepala opa-opa” itu dijual Rp 20.000 per buah.
Bahannya adalah kelapa gabuk (yang gagal membesar) dan telah kering. Separuh bagian diukir menjadi wajah dengan semburat serat sabut, sebagai rambutnya. Separuhnya lagi dibiarkan utuh terbungkus sabut. Sayangnya, pengrajinnya tidak ikut ke Jakarta.
Masih banyak bagian dari kelapa yang bisa dimanfaatkan dan bisa menghasilkan uang. Misalnya dibuat menjadi perangkat makan terbuat dari batok. Yang ini, proses pembuatannya lebih sulit karena batok-batok tersebut dipecah-pecah kecil dan disusun kembali seperti membuat mozaik dengan perekat, sehingga menjadi lempengan. Barulah setelah ini dibentuk menjadi benda-benda tertentu, bahkan bisa dibuat lemari atau meja. Pelopornya semula pelaku bisnis mikro di Filipina yang kemudian diikuti Bali, yang juga telah sukses mengekspor ke mancanegara.
(SH/gatot irawan)




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.